About

Multivision Plus (MVP) berdiri sebagai antisipasi perkembangan industri pertelevisian di Indonesia. Hadirnya televisi swasta RCTI (1989) menjadi pemikiran MVP untuk menjadi rumah produksi pelopor yang mendukung perkembangan siaran televisi swasta dengan program-programnya. MVP membaca bahwa perkembangan industri pertelevisian swasta akan ‘booming’.  

Sejak 1989 itulah menjadi tonggak bagi MVP mulai berkreasi dan berperan-aktif dalam industri pertelevisian swasta. Dalam perkembangannya ternyata yang dilakukan MVP tidaklah meleset. Televisi swasta berkembang sangat dinamis. Setelah RCTI, hadir bertutur-turut stasiun TV swasta SCTV, TPI, Anteve, Indosiar, Metro TV, Trans TV, TV7, Lativi, Global TV, dll. Semua pernah menjadi stasiun penayang program-program produksi MVP selama 18 tahun itu.

Sebelum berproduksi selama 18 tahun di industri pertelevisian, sebenarnya semua berawal dari PT Parkit Films yang didirikan pada 1979. Rumah produksi ini memang dimaksudkan untuk memproduksi film-film nasional. Dan dari pengalaman panjang bergerak dalam industri hiburan inilah, MVP seakan besar karena memang telah memiliki pondasi di industri hiburan.

Dalam setiap perkembangannya dari tahun ke tahun jelas terlihat dinamika perubahan industri pertelevisian nasional. Sejak awal visi MVP jelas bahwa memberikan hiburan yang sehat. Bukan sekadar tontonan tapi sebuah tontonan yang mampu memberikan
tuntunan kepada pemirsanya.

Sementara misi entertainment for all jelas menjadi komitmen bagi MVP untuk terus memberi hiburan yang berpegang pada tata nilai sosial dan budaya bagi semua lapisan usia, semua strata, tanpa ada sekat-sekat pembatas suku, agama maupun ras.   

Investasi sebuah film atau produksi televisi sangatlah bervariatif. Banyak hal yang mempengaruhi besarnya investasi atau biaya produksi film. Variabel tersebut bisa dari jenis (genre) film yang akan diproduksi, bintang-bintang yang terlibat, peralatan teknis yang digunakan, juga menyangkut seberapa besar biaya campaign promo dan pemasaran sebuah film. Sementara untuk membuat sebuah produksi televisi, variabel durasi (serial atau FTV) dan bintang yang terlibat menjadi penentu besarnya biaya produksi.

Besar biaya produksi untuk film-film mutakhir – MVP Pictures (dulu di bawah produksi PT Parkit Films) – biaya produksi mencapai Rp 5-8 miliar/ judul. Sementara untuk biaya produksi seri atau serial mencapai Rp 250-300 juta/ episode.

MVP adalah sejarah panjang. Ia bermula dari perusahaan film PT Parkit Films, berdiri pada tahun 1979. Dengan jumlah karyawan tetap mencapai 30-an staf, dan mayoritas tenaga kreatif honorer yang bekerja di lapangan. Seiring perkembangan industri televisi, PT Parkit Films melebarkan bidang usahanya. Pada tahun 1989 berdirilah PT MULTIVISION PLUS (MVP). Awalnya juga mempekerjakan 30-an staf kantor (mayoritas tenaga kreatifn honorer), pada akhirnya kini mencapai 400-an staf di berbagai level. Jumlah ini masih ditambah 1500-an tenaga kreatif honorer.

MVP berkembang begitu pesat, sangat pesat. Rumah produksi tidak sebanyak dan sekompetitif saat ini. Dalam tiga tahun (sejak 1989), MVP telah menjadi rumah produksi paling produktif. Besarnya kebutuhan program di TV Swasta – awalnya RCTI dan SCTV – menjadikan MVP kewalahan memenuhi kebutuhan program produksi televisi.

SELAMA tiga tahun itu pula, MVP membangun citranya. Sehingga citra sebagai “Sang Pelopor” (rumah produksi dalam industri TV) begitu melekat pada MVP. MVP juga menjadi pelopor tidak saja sebagai rumah produksi, tapi juga menyangkut seluruh aspek dalam industri TV. Ya, sumber daya manusianya (SDM), teknologi hingga pemasaran produksinya. Boleh dikata MVP menjadi pelopornya.

Penggunaan tenaga kreatif dari Amerika, Hong Kong, India dan Singapura, adalah bagian dari alih-kepintaran, penggunaan produk teknologi mutakhir dalam produksi maupun post-produksi. Serta penjajakan di market-market internasional adalah wujud komitmen “Sang Pelopor” itu tadi. Sebagai informasi, sejak tahun 1993 MVP telah menjadi pemain regional. Produksi MVP telah ditayang d Singapura dan Malaysia.

Bila yang dimaksud adalah komponen apa saja yang digunakan dalam sebuah produksi. Tentunya bisa dibagi menjadi tiga hal besar, komponen pra-produksi, produksi dan pasca-produksi. Pra-produksi tentunya menyangkut ketersediaan naskah/ skenario, pemain, awak produksi (sutradara, penata kamera, penata suara, penata artistik, dll). Pemilihan skenario yang bagus juga tergantung dari tema-tema menarik dan isu-isu yang ada. Skenario ibaratnya adalah cetak biru. Dan skenario yang bagus pun masih harus ditentukan oleh kemampuan sutradara dalam mengeksekusi detail yang ada dalam skenario. Unsur yang tak kalah enting dalam persiapan produksi ini adalah, penentuan kostum dan lokasi syuting.  

Kebutuhan pada saat produksi lebih kepada perangkat teknis, seperti: kamera, perekam suara, lampu-lampu, set property (bangunan indoor atau outdoor), dll. Dan untuk pasca-produksi perangkat untuk menjadikan sebuah produk film adalah menyangku peralatan editing (gambar dan suara)

Sebagai informasi, untuk peralatan produksi film, lebih efisien bila menggunakan peralatan sewa pada pemilik jasa produksi. Sementara untuk produksi TV, lebih efisien bila memiliki sendiri semua peralatan produksi tersebut.

Pemasaran sebuah film tidak terlepas dari promo-plan sebuah film. Sebelum diproduksi, saat diproduksi dan saat film beredar, ada tahap-tahap kegiatan pemasaran dan promosi dari setiap film. Genre sebuah film juga ikut menentukan strategi pemasaran dan promosi.

Bagi MVP memasarkan produksi film tentunya mengikuti ketentuan proses trickle-down. Sebuah proses yang dikenal sebagai window-time. Pasar pertama adalah gedung bioskop, lokal maupun regional (Asia Tenggara), berikutnya adalah pasar home-entertainment yang meliputi media DVD atau VCD. Setelah proses peredaran untuk media home entertainment, berikutnya adalah siaran terbatas: bisa pay TV, direct to home atau pun siaran-siaran terbatas melalui satelit. Selanjutnya adalah penjualan untuk penonton lebih luas (televisi). Proses pemasaran umum ini yang dilakukan oleh MVP untuk produk film-filmnya.

Bila mencakup aspek pemasarannya, hingga saat ini film-film MVP telah hadir di market-market film dunia. Mulai penjualan dan peredaran di wilayah, Eropa, Amerika, Asia, Australia, hingga Afrika (Mesir dan Maroko).

Kualifikasi dan tuntutan di industri hiburan sebenarnya sederhana. BAKAT SENI, utamanya. Selebihnya tak ubahnya kosmetik. Penampilan, pendidikan, kepintaran adalah pendukung bagi bakat seni. MVP selalu melihat dari sisi bakat seni ini. Industri hiburan adalah lapangan pekerjaan dengan tuntutan kreatifitas yang tinggi, dan kreatifitas berangkatnya dari BAKAT SENI.

Sesuai misi hiburan untuk semua, MVP pun akan terus memproduksi film dalam berbagai genre. Semua genre drama (komedi, romantis, sosial), thriller, horror, dll. Dan keinginan terbesar MVP adalah membuat sebuah film bergenre ACTION berkelas ‘Hollywood’.


Ketika industri pertelevisian ‘booming’, semua tergagap. MVP awalnya juga begitu. MVP memulai dalam ketergagapan dan keterbatasan. Keterbatasan dengan sumber daya manusia dan tergagap oleh kehadiran teknologi penyiaran.

Namun sekali lagi, MVP selalu berpegang pada dua hal penting dalam industri hiburan ini, pertama adalah BAKAT dan kedua adalah KREATIFITAS.


Sebutan “Sang Pelopor” adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Bila 1993, MVP sudah menjadi pemain regional. Rencana ke depan adalah menjadikan MVP sebagai pemain global dalam industri hiburan. Semua tengah berlangsung, semua tengah berproses ke arah tersebut.

Sejak 2005, program-program MVP sudah bisa dinikmati di saluran terbatas (ASTRO) di kawasan regional, untuk saat ini baru negara-negara seperti: Malaysia, Brunai, Singapura.

Market internasional industri film dan televisi pun telah menikmati kehadiran MVP. Itu sebabnya, film dan program televisi produksi MVP telah dinikmati di negara-negara seperti India, Australia, Eropa, dan Amerika Utara. Memang tidak dalam jumlah besar, namun proses menuju ‘besar’ inilah yang menjadi harapan MVP.